relawan tersenyum 2, sepenggal kisah dari bengkulu,padang dan bima
Menjadi relawan tetaplah mempunyai banyak cerita konyol dan aneh. Bahkan ketika menjadi relawan pada tahap recovery pun banyak terjadi kejadian konyol.
Dicubit adik-adik
Salah satu program kami ketika berada di tempat bencana adalah mengisi TPA. Karena keterbatasan SDM maka kami harus bergilir mengisi TPA yang tersebar di daerah tersebut. Seperti biasa, saya mendongeng di depan adik-adik. Dan ketika akan pulang mereka berkata “Pokoknya kak idzma besok kesini lagi ya, kalo ga nanti kami cubit!!!”. Esok harinya seorang relawan dengan bersungut-sungut berkata” idzma, gara-gara nte nih ane abis dicubitin sama adik-adik. Mereka ngambek karena nte ga dateng”. Oalah…ternyata ia mengisi di TPA yang saya isi kemarin.
KAPUT
Salah satu relawan kami bernama putri. Dan panggilan sayang kami kepada sesama relawan adalah dengan sebutan kakak. Jadi kami memanggil ia dengan panggilan ka putri. Dan untuk menyingkatnya, akhirnya kami memanggilnya dengan kaput. Seperti saya dipanggil dengan ka’idz. Kami menggunakan panggilan itu selama kami mengisi pelatihan di relawan lokal dan masyarakat. hingga di hari ketujuh. Pada saat kami melakukan audiensi dengan ibu wakil bupati, seorang relawan lokal berkata “kak, kok manggilnya kaput sih?. Putri pun nyeletuk “iya nih kaya jahitan”. Si relawan lokal kembali berkata”di bengkulu itu. Kaput artinya babi kak!”. Hah kami pun kaget! Duuh..kenapa ga bilang dari kemarin……
PA’UD
Masalah bahasa kembali jadi masalah untuk kami. Dalam pelatihan, kami seringkali menyebut kata PAUD (pendidikan anak usia dini) dengan PA’UD. Ini seperti yang biasa kami sebut di Bandung. Namun pada hari terakhir sebelum kami pulang ke Bandung seorang relawan lokal kembali berkata”kakak, lain kali jangan menyebut PAUD denga PA’UD ya. Disini itu jadi kata-kata jorok. Ga sopan kak”. Duh..ini lagi!!! Kenapa ga bilang dari awal sih!?
Mendongeng
Selama bertugas di bengkulu, kami selalu dikawal seorang anggota KORSAD (tim khususnya pandu keadilan). Kami memanggilnya bang Lif. Selama mengawal kami, ia selalu kami “racun” untuk bisa mendongeng. Dan setiap malam ia selalu berlatih mendongeng bersama kami. Di depan kami ia PD untuk mendongeng dan memainkan boneka tangan. Hingga pada suatu ketika kami sedang mendongeng di depan sekitar 200 anak di SD. Saya yang menjadi danlap tiba-tiba berkata” adik-adik mo mendengar dongeng? Ayo kita panggil bang lif”. Bang lif yang tidak menyangka akan dijebak akhirnya maju kedepan anak-anak, dan anak-anak pun menyambut dengan riuh sambil meneriakkan namanya”bang lif…..bang lif…bang lif”. Ketika maju ke depan, ternyata ia hanya terpaku di depan tanpa bisa berkata apa-apa. Semua yang sudah dilatihnya hilang entah kemana. Akhirnya melihat ia sudah pucat pasi, saya mengambil alih kembali komando. Ketka perjalana pulang ia berkata “ane lebih baik megang komando kepanduan deh daripada ngadepin anak-anak kaya gitu”. Kami pun tertawa terpingkal-pingkal.
Sapi
Seorang kakak di space com, termasuk orang yang polos. Suatu ketika kami selesai mengisi di sebuah SD, dan ternyata di depan SD tersebut ada seekor sapi dan anaknya. Melihat anak sapi yang lucu, si kakak akhirnya mo mendekatinya untuk diambil fotonya. Karena terlalu konsen pada si abak sapi, si kakak tidak melihat langkahnya dan akhirnya menginjak gundukan besar tahu sapi. Kasian, tahi sapi yang berwarna hijau dan bau itu mengotori semua sepatu hinga kaus kakinya. hii…..
Dikepung Monyet
Setelah bertugas selama 3 minggu di bengkulu dan padang, kami melakukan recovery relawan alias jalan-jalan ke bukit tinggi. Ada 3 orang kakak akhwat dan 4 orang kakak ikhwan yang ikut jalan-jalan hari itu. Di ngarai sianouk, Seorang kakak akhwat tiba-tiba melihat 2 ekor monyet sedang “kawin”. Bersama kakak-kakak akhwat lainnya, ia pun berfoto ria di depan monyet tersebut. Merasa terganggu, monyet tersebut pun marah dan memanggil seluruh kawannnya. Akhirnya 3 orang kakak akhwat tersebut dikepung oleh sekawanan monyet yang marah. Monyet-monyet tersebut semakin merangsek ke depan. Dan kakak-kakak akhwat itu menjerit histeris dan hampir menangis. Untungnya ada penduduk sekitar yang berhasil mengusir monyet-monyet tersebut. Lalu kemana para kakak ikhwan? Ternyata mereka lari keatas menara dan bersorak sorai dari sana menertawakan kakak-kakak akhwat yang pucat pasi dikepung monyet. Emang dasar ikhwan ga tau diri!!:D
Mengkondisikan pesawat
Saat bertugas di bengkulu, Kami menjadi tamu dari PEMDA bengkulu utara dan akhirnya diantar kemana-mana dengan mobil dinas wakil bupati. Saat akan pulang ke Bandung, kami nyaris ketinggalan pesawat. Pesawat berangkat jam 16.15, tapi jam 15.30 kami masih asyik belanja oleh-oleh. Kami akan telat sampai di bandara. Namun yang tidak kami sangka ialah ajudan wakil bupati yang mengantar kami tiba-tiba menelpon ke bandara dan berkata “saya lagi bawa tamu bos nih, dan sepertinya akan telat. Tolong kondisikan pesawatnya ya”. Hah sampai segitunya…..:D
Makan siang bersama bupati
Saat bertugas ke Bima, saya dan seorang teman relawan ternyata satu pesawat dengan bupati Bima. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung menyapa pak bupati dan rombongannya. Sesampainya di bandara Bima, Kami langsung dijamu makan siang oleh pak bupati di ruang VIP. Setelah beramah tamah dan menjelaskan maksud kedatangan kami, pak Bupati berkata kepada pak sekda “pak sekda, tolong keperluan adinda-adinda ini diurus ya”. Yoi, program kami dibantu oleh PEMDA Bima. setelah Keluar dari ruangan VIP untuk menuju mobil yang menjemput kami, teman saya bertanya “ ka idzma, tadi kita bicara sama siapa sih? Kok dia bisa nyuruh-nyuruh SEKDA?”. Hueks….nih bocah kacau juga!!! Setelah ngobrol selama itu dia belum sadar kalo baru berhadapan dengan Bupati Bima!? dodol!!! Konyol juga ya!!! Karena tidak berencana bertemu bupati, kami menghadap bupati beserta jajarannya dengan kaos oblong dan sendal jepit!!! Gembel banget kan??:D
Awas babi
Saat di bengkulu saya menyempatkan diri bertamu ke rumah paman di Unit 4 bengkulu utara. Letaknya sekitar satu jam naik turun bukit dari arga makmur,ibukota kabupaten bengkulu utara. Saya bersama paman menuju tempat itu dengan motor. Saya yang melihat jalan sepi, cuek saja tancap gas. Tapi paman tiba-tiba berkata,”jangan ngebut, takut tiba-tiba ada babi lewat”. Masa sih? Saya menemukan jawabannya esok harinya. Ketika kami sedang menuju daerah putri hijau, tiba-tiba kami menemukan seekor babi hutan. Dan jelas saja kami lansung teriak “babi!!!!”.
Orang trans naik pesawat
Di pesawat menuju bengkulu, kami bertemu dengan para transmigran yang akan menuju bengkulu. Seperti kita tahu, para transmigran tersebut adalah warga desa yang baru pertama kali naik pesawat. Sebelum pesawat take off, dengan dipimipin salah saeorang dari mereka, kelompok transmigran itu melakukan doa bersama. Dan ketika pesawat mendarat, mereka saling bersalaman sambil berkata “selamat…selamat….”. ya ampuuuunnnnn……..dasar orang trans!!!
