relawan tersenyum 2, sepenggal kisah dari bengkulu,padang dan bima

Menjadi relawan tetaplah mempunyai banyak cerita konyol dan aneh. Bahkan ketika menjadi relawan pada tahap recovery pun banyak terjadi kejadian konyol.

  1. Dicubit adik-adik

Salah satu program kami ketika berada di tempat bencana adalah mengisi TPA. Karena keterbatasan SDM maka kami harus bergilir mengisi TPA yang tersebar di daerah tersebut. Seperti biasa, saya mendongeng di depan adik-adik. Dan ketika akan pulang mereka berkata “Pokoknya kak idzma besok kesini lagi ya, kalo ga nanti kami cubit!!!”. Esok harinya seorang relawan dengan bersungut-sungut berkata” idzma, gara-gara nte nih ane abis dicubitin sama adik-adik. Mereka ngambek karena nte ga dateng”. Oalah…ternyata ia mengisi di TPA yang saya isi kemarin.

  1. KAPUT

Salah satu relawan kami bernama putri. Dan panggilan sayang kami kepada sesama relawan adalah dengan sebutan kakak. Jadi kami memanggil ia dengan panggilan ka putri. Dan untuk menyingkatnya, akhirnya kami memanggilnya dengan kaput. Seperti saya dipanggil dengan ka’idz. Kami menggunakan panggilan itu selama kami mengisi pelatihan di relawan lokal dan masyarakat. hingga di hari ketujuh. Pada saat kami melakukan audiensi dengan ibu wakil bupati, seorang relawan lokal berkata “kak, kok manggilnya kaput sih?. Putri pun nyeletuk “iya nih kaya jahitan”. Si relawan lokal kembali berkata”di bengkulu itu. Kaput artinya babi kak!”. Hah kami pun kaget! Duuh..kenapa ga bilang dari kemarin……

  1. PA’UD

Masalah bahasa kembali jadi masalah untuk kami. Dalam pelatihan, kami seringkali menyebut kata PAUD (pendidikan anak usia dini) dengan PA’UD. Ini seperti yang biasa kami sebut di Bandung. Namun pada hari terakhir sebelum kami pulang ke Bandung seorang relawan lokal kembali berkata”kakak, lain kali jangan menyebut PAUD denga PA’UD ya. Disini itu jadi kata-kata jorok. Ga sopan kak”. Duh..ini lagi!!! Kenapa ga bilang dari awal sih!?

  1. Mendongeng

Selama bertugas di bengkulu, kami selalu dikawal seorang anggota KORSAD (tim khususnya pandu keadilan). Kami memanggilnya bang Lif. Selama mengawal kami, ia selalu kami “racun” untuk bisa mendongeng. Dan setiap malam ia selalu berlatih mendongeng bersama kami. Di depan kami ia PD untuk mendongeng dan memainkan boneka tangan. Hingga pada suatu ketika kami sedang mendongeng di depan sekitar 200 anak di SD. Saya yang menjadi danlap tiba-tiba berkata” adik-adik mo mendengar dongeng? Ayo kita panggil bang lif”. Bang lif yang tidak menyangka akan dijebak akhirnya maju kedepan anak-anak, dan anak-anak pun menyambut dengan riuh sambil meneriakkan namanya”bang lif…..bang lif…bang lif”. Ketika maju ke depan, ternyata ia hanya terpaku di depan tanpa bisa berkata apa-apa. Semua yang sudah dilatihnya hilang entah kemana. Akhirnya melihat ia sudah pucat pasi, saya mengambil alih kembali komando. Ketka perjalana pulang ia berkata “ane lebih baik megang komando kepanduan deh daripada ngadepin anak-anak kaya gitu”. Kami pun tertawa terpingkal-pingkal.

  1. Sapi

Seorang kakak di space com, termasuk orang yang polos. Suatu ketika kami selesai mengisi di sebuah SD, dan ternyata di depan SD tersebut ada seekor sapi dan anaknya. Melihat anak sapi yang lucu, si kakak akhirnya mo mendekatinya untuk diambil fotonya. Karena terlalu konsen pada si abak sapi, si kakak tidak melihat langkahnya dan akhirnya menginjak gundukan besar tahu sapi. Kasian, tahi sapi yang berwarna hijau dan bau itu mengotori semua sepatu hinga kaus kakinya. hii…..

  1. Dikepung Monyet

Setelah bertugas selama 3 minggu di bengkulu dan padang, kami melakukan recovery relawan alias jalan-jalan ke bukit tinggi. Ada  3 orang kakak akhwat dan 4 orang kakak ikhwan yang ikut jalan-jalan hari itu. Di ngarai sianouk, Seorang kakak akhwat tiba-tiba melihat 2 ekor monyet sedang “kawin”. Bersama kakak-kakak akhwat lainnya, ia pun berfoto ria di depan monyet tersebut. Merasa terganggu, monyet tersebut pun marah dan memanggil seluruh kawannnya. Akhirnya 3 orang kakak akhwat tersebut dikepung oleh sekawanan monyet yang marah. Monyet-monyet tersebut semakin merangsek ke depan. Dan kakak-kakak akhwat itu menjerit histeris dan hampir menangis. Untungnya ada penduduk sekitar yang berhasil mengusir monyet-monyet tersebut. Lalu kemana para kakak ikhwan? Ternyata mereka lari keatas menara dan bersorak sorai dari sana menertawakan kakak-kakak akhwat yang pucat pasi dikepung monyet. Emang dasar ikhwan ga tau diri!!:D

  1. Mengkondisikan pesawat

Saat bertugas di bengkulu, Kami menjadi tamu dari PEMDA bengkulu utara dan akhirnya diantar kemana-mana dengan mobil dinas wakil bupati. Saat akan pulang ke Bandung, kami nyaris ketinggalan pesawat. Pesawat berangkat jam 16.15, tapi jam 15.30 kami masih asyik belanja oleh-oleh. Kami akan telat sampai di bandara. Namun yang tidak kami sangka ialah ajudan wakil bupati yang mengantar kami tiba-tiba menelpon ke bandara dan berkata “saya lagi bawa tamu bos nih, dan sepertinya akan telat. Tolong kondisikan pesawatnya ya”. Hah sampai segitunya…..:D

  1. Makan siang bersama bupati

Saat bertugas ke Bima, saya dan seorang teman relawan ternyata satu pesawat dengan bupati Bima. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung menyapa pak bupati dan rombongannya. Sesampainya di bandara Bima, Kami langsung dijamu makan siang oleh pak bupati di ruang VIP. Setelah beramah tamah dan menjelaskan maksud kedatangan kami, pak Bupati berkata kepada pak sekda “pak sekda, tolong keperluan adinda-adinda ini diurus ya”. Yoi, program kami dibantu oleh PEMDA Bima. setelah Keluar dari ruangan VIP untuk menuju mobil yang menjemput kami, teman saya bertanya “ ka idzma, tadi kita bicara sama siapa sih? Kok dia bisa nyuruh-nyuruh SEKDA?”. Hueks….nih bocah kacau juga!!! Setelah ngobrol selama itu dia belum sadar kalo baru berhadapan dengan Bupati Bima!? dodol!!! Konyol juga ya!!! Karena tidak berencana bertemu bupati, kami menghadap bupati beserta jajarannya dengan kaos oblong dan sendal jepit!!! Gembel banget kan??:D

  1. Awas babi

Saat di bengkulu saya menyempatkan diri bertamu ke rumah paman di Unit 4 bengkulu utara. Letaknya sekitar satu jam naik turun bukit dari arga makmur,ibukota kabupaten bengkulu utara. Saya bersama paman menuju tempat itu dengan motor. Saya yang melihat jalan sepi, cuek saja tancap gas. Tapi paman tiba-tiba berkata,”jangan ngebut, takut tiba-tiba ada babi lewat”. Masa sih? Saya menemukan jawabannya esok harinya. Ketika kami sedang menuju daerah putri hijau, tiba-tiba kami menemukan seekor babi hutan. Dan jelas saja kami lansung teriak “babi!!!!”.

  1. Orang trans naik pesawat

Di pesawat menuju bengkulu, kami bertemu dengan para transmigran yang akan menuju bengkulu. Seperti kita tahu, para transmigran tersebut adalah warga desa yang  baru pertama kali naik pesawat. Sebelum pesawat take off, dengan dipimipin salah saeorang dari mereka, kelompok transmigran itu melakukan doa bersama. Dan ketika pesawat mendarat, mereka saling bersalaman sambil berkata “selamat…selamat….”. ya ampuuuunnnnn……..dasar orang trans!!!

                            

relawan tersenyum, sepenggal kisah dari tsunami aceh 2004

Bencana gempa bumi dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam telah menyisakan beragam kisah sedih dan pilu, heroik bahkan kisah seram yang dialami para relawan yang bertugas disana. Tapi dibalik kedahsyatan bencana tersebut tersimpan beragam cerita lucu dan konyol  tentang tingkah laku relawan selama bertugas disana. Berikut ini beberapa cerita lucu dan konyol yang dialami penulis selama menjadi relawan pandu keadilan di Aceh.

  1. Pesawat terbang 1 : aksi

naik pesawat carteran bersama ratusan pandu keadilan dari seluruh Indonesia merupakan pengalaman mengesankan tersendiri. Bisa dibayangkan ketika ratusan “tukang demo” dari berbagai daerah di Indonesia kumpul dalam satu pesawat!? Hasilnya adalah  Rame dan seru!!! Sepanjang jalan mereka menyanyikan nasyid-nasyid perjuangan laiknya ketika berada di dalam bus waktu jaman-jamannya aksi dulu dan acara nasyidan ini pun “dikompori” oleh ustadz yang mendampingi perjalanan tersebut. Hingga saking berisiknya di kabin pesawat tersebut, seorang penumpang yang kebetulan bukan anggota pandu berkata kepada temannya “yah..udahlah, mereka yang punya pesawat, kita mah ikut aja…” sambil berusaha memejamkan mata untuk beristirahat ditengah kebisingan tersebut.

  1. pesawat terbang 2: pramugari seksi

Ketika pramugari sedang menjelaskan mekanisme penyelamatan diri, tiba-tba seorang ikhwan tiba-tiba berteriak “usatadz…usul!gimana kalo nanti DPP nyewa pesawat lagi, cari yang pramugarinya akhwat berjilbab aja!!” dan ditimpali oleh yang lain dengan “atau cari yang berjenggot aja stadz…!!, jelas saja celetukan ini membuat seisi pesawat tertawa dan tentu saja membuat merah padam muka para pramugari  yang bertugas!!!

  1. pesawat terbang 3 : tidak taat

kekonyolan tersebut berlanjut dengan tidak mau mendengarkan panduan keselamatan yang dijelaskan para pramugari tersebut. Hingga akhirnya seorang ustadz pun turun tangan dengan berkata “ikhwah fillah….tolong dengarkan panduan dari saudara-saudara kita yang bertugas memandu kita selama dalam pesawat……” dan…barulah mereka mengikuti panduan yang diberikan!!

  1. pesawat terbang 4 : kaca jendela

Anda tahu apa yang dilakukan ikhwan-ikhwan itu ketika pesawat take off?? bertakbir dan berebut untuk  menegok sampai menempelkan muka mereka ke jendela!! Ketika ditanya kenapa, jawabannya “kapan lagi melihat pemandangan kaya gini!?jarang-jarang akh!!”.duh..ternyata ikhwan-ikhwan ini harus sering-sering naik pesawat….

  1. pesawat terbang 5 safety prossedure

ba’da shubuh pasca taujih shubuh. Kami harus packing ulang untuk pindah posko. Sewaktu packing, tiba2 seorang ikhwah bertanya. “Kalo ini boleh dibawa ga yah??” dan langsung disambut tawa anggota kelompok yang lain. Ternyata ia membawa lembar petunjuk safety proccedure yang ada di bangku pesawat!! ”buat kenang-kenangan akh” sahutnya. “Kenapa ga sekalian ambil pelampung aja akh?” sahut yang lain dengan tawa semakin keras……

  1. shalat subuh

jam 4.30  pagi saya sudah bangun karena alarm HP sudah berbunyi. Ketika bangun saya lihat tak satu pun ikhwah yang sholat shubuh. Saya berpikir “apakah sedahsyat ini bencana aceh hingga membuat para ikhwah tidak shalat shubuh berjamaah??” akhirnya saya membangunkan sahabat-sahabat lainnya. Tak lama kemudian ada yang menegur saya dan bilang “bang, sekarang belum shubuh. Waktu shubuh disini jam 5.30!!”duh jadi pengen malu. Tapi ketika kami shalat sunat qobla shubuh. Tiba2 ada ikhwah yang masuk mesjid sambil bersungut-sungut “uuh..ikhwah-ikhwah ini gimana sih!? sudah telat, shalat shubuh-nya ga berjamaah!!“ wah ternyata ada yang lebih telat sadar..”

  1. taujih subuh

suatu pagi, setelah berhari-hari kerja keras di lapangan. Banyak ikhwah yang kelelahan dan sakit. Di pagi hari mereka hanya berkemul di dalam sleeping bag masing-masing. Seperti biasanya, setiap ba’da shubuh selalu di lanjutkan dengan taujih dari ustadz-ustadz yang mendampingi relawan. Pagi itu yang mendapat giliran memberikan taujih adalah salah seorang “jendral” kepanduan. Taujih diawali tentang gambaran surga, kemudian tentang bidadari surga. Semua diceritakan secara mendetail. “bayangkan akh, mereka lebih cantik dari akhwat tercantik di bumi ini” sahutnya memotivasi para relawan. Tapi kemudian ucapan tersebut dilengkapi dengan “tapi akh….para bidadari itu selalu memilih pasangannya. Mereka hanya diperuntukkan untuk ikhwah yang berjihad di jalan allah. Untuk mereka yang berada di garis depan perjuangan” sahutnya berapi-api. “juga hanya untuk ikhwan yang kuat!! jadi….bukan untuk ikhwan yang penyakitan dan yang Cuma bisa nongkrong di posko aja!!!” ternyata efek taujih itu cukup besar, pada olah raga pagi, semua ikhwah langsung sembuh dari sakitnya dan siap berada di lapangan untuk tugas selanjutnya!!! Baik di dunia dan di akhirat, bidadari selalu jadi sumber motivasi!!he..he..he…

  1. taujih shubuh 2

seperti biasa…”akhwat” yang paling sering dibicarakan dalam taujih adalah para bidadari surga. Dalam suatu taujih seorang ustadz memotivasi para relawan dengan berkata “antum tau akh?...balasan seorang yang syahid ketika berjihad adalah 72 bidadari di surga nanti. Bayangkan…72 bidadari!!” tapi kemudian dilanjutkan dengan “tapi ane kasihan nih…disini banyak bujangan. Ane takut ketika antum syahid nanti ga tau harus diapain tuh 72 bidadari…antum belum punya pengalaman sih!!!” kontan aja pernyataan ini membuat merah padam muka para bujangan yang memang mendominasi ruangan tersebut

  1. Bidadari gembrot

kerja di bagian logistik tidak kalah berat daripada ketika harus mengevakuasi mayat. Dalam sehari, satu tim relawan yang berisi 10-20 orang relawan harus membongkar muat sekitar 18 ton barang bantuan. Kalo tidak punya motivasi yang kuat, pekerjaan ini bisa membuat stress. Pada suatu hari kami diharuskan membongkar sekitar 18 ton beras dan barang bantuan lainnya. Satu karung beras beratnya sekitar 50 kg, Untuk memotivasi diri, kami menyebutnya  “latihan menggendong bidadari”. Pada suatu ketika seorang ikhwah harus menggendong karung yang beratnya diatas rata-rata. Sambil menggendong karung itu ia nyeletuk “duh…bidadarinya gembrot nih...belum diet!!”jelas aja celetukan ini membuat relawan lainnya tertawa terbahak-bahak….

  1. Latihan ta’adud

Ketika harus membongkar setruk beras, seperti biasanya para ikhwan bercanda dan saling meledek. Tiba-tiba seorang ikhwah berkata, “akhi, antum tau berapa rata-rata berat seorang akhwat? Sekitar 50kg. nah…kalo antum mo taadud, antum sekarang harus kuat dulu mengangkat dua karung beras sekaligus”. Kebetulan berat per karung beras tersebut ada;ah 50 kg. Jelas saja itu membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal.

  1. Memakai antis

Setiap relawan dibekali dengan cairan antiseptik untuk mencuci tangan mereka agar tetap bersih ketika makan setelah bertugas. Namun yang konyol adalah, mereka memakai cairan antiseptik itu bukan sebelum makan, namun setelah makan. “supaya ga bau akh!!” ujar mereka. Ah dasar relawan aneh!!!

  1. Mandi pagi

Ada peraturan di base camp, karena keterbatasan air maka setiap relawan hanya boleh mandi satu kali dalam sehari. Yaitu sore hari setelah bertugas. Namun suatu pagi ada seorang ikhwan yang ngotot meminta izin pada komandan untuk mandi pagi. Si komandan berkata” pokoknya tidak, peraturan tetap peraturan. Ente harus taat sama peraturan!”. Dan akhirnya si ikhwan berkata “pak, kalo ane ga mandi, ane ga boleh sholat shubuh nih”. Akhirnya si komandan hanya bisa tersenyum dan berkata “yah nte, sempet-sempetnya. Kenapa ga bilang dari tadi. Mandi sana!”.

ngaji lagi...............

Sudah dua bulan lebih saya tidak hadir di “pekanan” saya. Tapi Hari itu saya memutuskan untuk hadir. Saya rindu dengan Pa’E dan geng sekeloa, tempat saya selama 6 tahun membina diri. Entah kenapa Hari itu saya benar-benr rindu untuk hadir di pekanan, padahal hari itu saya sedang flu berat. Anehnya, hari itu saya yang pertama datang (biasanya saya jadi raja telat). Pa’E sudah menunggu bersama jaiz, anaknya. Tumben nih Jaiz diajak ke JA (masjid tempat kami biasa melingkar). Sambil bercanda dengan jaiz, Seperti biasanya, kami mengobrol ngalor ngidul dari mulai masalah bisnis hingga pertanyaan standar “kapan mo proses nikah lagi nih ma? Udah ada calonnya belum?”. Kami ngobrol hingga yang lain datang. Hari itu selain saya, ada dua orang sahabat yang hadir. Jadi malam itu, kami berlima bersama pa’e dan jaiz.

Seperti biasa, pekanan hari itu dimulai dengan tilawah. Tapi kok tilawahnya cuma diwakili oleh satu orang ya? Nah lho? Ada apakah ini?. Akhirnya Pa’E menjelaskan bahwa ini merupakan “pekanan” terakhir kami bersama beliau. Ini merupakan “wadaan” kami. Saya setengah kaget mendengarnya, “kok ga ada pemberitahuan sebelumnya” ujar saya dalam hati. Pa’ E menjelaskan bahwa kelompok kami harus segera disatukan dengan kelompok lain yang selevel agar jumlahnya menjadi lebih banyak dan agar percepatan kami lebih baik lagi. Sebuah nama disebut sebagai pembina baru kami. Setelah 6 tahun, akhirnya kelompok kami pecah juga. Padahal ada anekdot di beberapa ikhwah yang mengatakan “ma, cuma Pa’e doang yang kuat megang nte ya? Buktinya nte ga dipindah-pindah”.

Setelah jelas bahwa kami akan dipindah, Saya akhirnya memilih  untuk sekalian pindah ke jakarta saja dan meminta surat transfer dari beliau. Tapi beliau berkata “nte datang dulu aja di kelompok yang baru. Nanti nte minta surat transfer ke pembina nte yang baru”. Perpisahahan yang mengharukan. Bayangkan, 6 tahun!! Jelas bukan waktu yang sebentar dalam sebuah pembinaan.

Malam minggunya, saya akhirnya hadir di kelompok yang baru. Satu-persatu teman-teman baru saya pun hadir. Hah!! Ternyata saya sekelompok dengan teman-teman lama. Saya bertemu dengan teman-teman biang rusuh di kampus dan DS. Halah ini mah pasti rusuh!! Di taaruf kelompok, saya langsung berkata. Bahwa ini adalah pertemuan pertama dan terakhir saya bersama mereka. Mereka sedikit kaget, tapi saya bilang bahwa saya harus segera pindah ke jakarta jadi memang harus segera pindah ngaji juga. Belakangan, saya baru tahu jika ternyata saya juga sekelompk dengan seorang ikhwan yang pernah menjadi murobbi saya sebelum bersama Pa’E. saya cukup kaget, sebenarnya saya yang cepat atau dia yang lambat? Kok bisa satu kelompok? 

Setelah pindah ke jakarta dengan membawa surat mutasi dari Bandung, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pembinaan dan akan mundur dari semua amanah saya selama ini. Entah kenapa, saya malas sekali untuk melanjutkannya. Surat mutasinya saya simpan saja di dalam tas. Dan rencananya akan saya jadikan kenang-kenangan dari Bandung. Saya memilih untuk menjadi orang bebas yang tidak terikat pada jamaah manapun. Namun saya berjanji, untuk tetap menyokong gerakan dakwah walaupun saya sudah tidak bergabung di dalamnya.

Dalam perjalanannya, ternyata saya belum bisa mundur sebagai ketua LP2i, Sebuah lembaga dakwah sekolah yang saya pimpin sejak 3 tahun lalu. Dan ternyata imej saya sebagai ADS tetap kental hingga banyak sekali orang yang meminta saya mencarikan murobbi untuknya atau untuk anak-anak SMA/SMP di Bandung. Bahkan beberapa ikhwan jakarta menghubungi saya untuk mengurus transfer  beberapa ikhwan-akhwat ke bandung. Saya juga akhirnya terlibat dalam pembenahan manajemen dakwah sekolah sebuah SMA di kota bandung. Salah satu yang harus saya lakukan ialah merapihkan pembinaan ADS di sekolah tersebut. Ditambah undangan mengisi taujih dan tausiyah di beberapa daurah dan acara DS.

Tidak hanya sampai disitu, mendengar saya sudah pindah ke jakarta, beberapa ikhwah jakarta langsung menawarkan amanah pada saya. Tercatat tiga amanah yang ditawarkan kepada saya, di GEMA Keadilan, menjadi ADS di SMP saya dulu, dan menjadi penanggung jawab DS di sebuah SMP. Ya allah segitu besarnya kepercayaan mereka pada saya? Bagaimana mungkin mereka mempercayakan amanah sebesar itu pada saya? Layakkah saya menerima amanah tersebut? Bagaimana mungkin saya mengurus pembinaan orang lain, sedangkan saya sendiri tak terbina lagi?

Hingga pada suatu ketika saya dihubungi oleh seorang sahabat untuk menjadi saksi pada pilgub JABAR di Bandung. Saya kembali terlibat dan bertemu dengan para kader yang berjuang untuk memenangkan dakwah di JABAR. Saat itu Saya kembali merasakan ruh perjuangan yang sempat hilang dari diri saya.

Dan puncaknya adalah ketika saya bersilaturahim di DPW PKS JABAR. Tiba-tiba saya bertemu ustadz Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis syuro PKS. Ketika saya bertemu dan bersalaman dengan ustadz senior ini, tiba-tiba kerinduan untuk kembali bergabung dengan jamaah ini menyergap saya. Entah kenapa saya rindu untuk hadir dalam pekanan, rindu untuk kembali bergerak, rindu untuk kembali berjuang di garis depan. Di angkot dalam perjalanan pulang ke kosan, Tiba-tiba kilasan-kilasan perjalanan tarbiyah saya selama ini muncul di benak saya. Kilasan ketika saya ikut pekanan, memimpin demo, acara-acara kepanduan, di KAMMI, DK, di dakwah sekolah dll. Tiba-tiba kenangan indah itu muncul kembali. Esoknya, setelah tiba kembali di jakarta, saya langsung menyerahkan surat mutasi saya ke seorang sahabat yang menjadi kaderisasi di DPC tempat saya tinggal. Dan saya memutuskan untuk kembali bergabung di jamaah ini.

Ya allah, ternyata engaku masih sayang pada saya. Engkau memberikan pelajaran-pelajaran untuk mengajak saya kembali ke jalanmu. istiqomahkan kami semua dalam jalanmu dan pertemukanlah kami semua di surgamu kelak. Amin

kegoblokan julia perez, again!!!???

Gue ga ngerti apa maunya makhluk bernama Julia Perez, apa dia ga puas udah merusak generasi muda indonesia dengan gayanya yang sok seksi? Gayanya yang mesum dan berorientasi SEXUAL!? Sekarang di album barunya yang diberi judul kamasutra, dia menyelipkan kondom sebagai bonusnya. Goblok banget sih!!! Apa sih maunya?

Gue ga ngerti jalan pikiran orang-orang kaya dia. Waktu diwawancara sebuah infotainment, dia bilang ”pilhan kondom adalah pilihan terakhir, awalnya gue mo ngasih tips 1001 cara bercinta”. Hah!? Lebih goblok lagi kan!? Maksudnya apa sih? Cari sensasi?

Ketika ditanya apa alasan ia menyelipkan kondom, ia mengatakan “saya mo membantu kampanye pemerintah untuk pencegahan AIDS, dengan SAVE SEX”. Duuh….nih orang ngomong ga pake otak banget sih…atau jangan-jangan dia ga punya otak? Cuma punya dada doang? Dengan ngomong gitu, dia sama aja bilang “yuk kita having sex! Free sex ga apa-apa yang penting pake kondom!!!”. Tolol banget!!! Apa dia ga mikir hancurnya generasi muda karena sex bebas?

Efek negatif sex bebas tuh ga cuma AIDS, tapi juga kerusakan moral, perkosaan hingga aborsi. Kebayang aja generasi muda yang kecanduan sex dan hancur masa depannya. Dia ga mikir efeknya sedahsyat itu?

Gue jadi inget adik-adik binaan gue di SMP dan SMA yang sekarang kecanduan sex. Mereka memang belum sampai melakukan free sex (setidaknya gue belum tau), tapi mereka jadi sering bicara jorok dan gerakan tubuhnya sering menunjukkan ekspresi mesum. Kata-kata seperti dada, pepaya, terong, pisang dll menjadi berkonotasi negatif bagi mereka, dan selalu dikonotasikan dengan sexual. Dari cerita mereka, mereka mengaku sering melakukan fantasi sexual dengan Julia perez sebagai objeknya!!! Bahkan ditemukan kasus mereka melakukan onani di dalam kelas ketika pelajaran sedang berlangsung!!! gila ga tuh!? Tidaaaaak…adik-adik gue yang lucu pun telah dia rusak!!! Dan sekarang gue pusing buat “nyembuhin” mereka!!!

Kalo si Julia perez itu mo membantu pemerintah mencegah AIDS sebenarnya gampang. STOP SO SEKSI!!!! Ga mesum lagi!!! Ga pake baju yang “tumpah” lagi!!! Ga beradegan panas lagi!!! Jujur, gue jijik liat gayanya yang mesum itu!!!

 Tulisan ini ga cuma buat julia perez, tapi juga buat artis-artis so seksi yang bergaya mesum kaya inul, dewi persik, trio macan dll. Lo bebas berekspresi, tapi masyarakat juga punya hak untuk ga dirusak sama perusak moral kaya lo!!!!

saksi kemenangan HADE

“tlmt DPD: saksi kota bdg msh kurang 929 org, mhn kader siap menjadi saksi&ditempatkan di seluruh wilayah kota bandung. Daftar ke ………… HP ………. Format : ketik nama& no HP. ayyuhal ikhwah jihad tlah memangil antum”

“bersiap siagalah sahabat, pagi nanti qt akan melakukan amal jihad qt pada sang kekasih. Bertahajudlah…berdoalah agar dia memberikan pemimpin terbaik untuk qt semua. Amin.”

“segenap saksi HADE n kader mhn diperhatikan, dlm kartu suara gbr agum memakai PIN warna putih di dadanya yg mirip lobang coblosan. Mhn diperhatikan pada saat penghitungan suara jgn smp tanda putih tsb dianggap sbg lubang coblosan. Sebarkan”

“siapkah antum menhadapi perang badar hari ini? Smskn hasil perghitungan suara dengan format ke no ini”

“Hati-hati dengan tim TPS yang mengarahkan dgn bilang di tengah-tengah ke ortu atau jompo ke cagub no 2. Saksi lebih kritis dan berani untuk menegur. Kawal kotak suara hingga kelurahan samoja. Brkn lmbr C-1 yang telah sahabat isi stlh perhitungan pd fitri yang akan stand by di kelurahan….makan siang akan segera menyusul…=D Semoga allah meridoi”

“Taklimat DPD : untuk saksi, waspada dlm kartu suara, gbr agum memakai pin warna ptih di dadanya mirip lobang coblosan, jangan samapai dihitung sebagai suara sah/tidak sah. Sebar ke saksi”.

“Pastikan saksi-saksi mencatat jumlah pemilih yang mencoblos dr DPT, mendapat 1 bundel DPT dan form C. itu hak saksi”.

“Ya akhi untuk menjaga kemenangan maka kita harus menjaga kotak suara di TPS, PPS, PPK, KPUD Kota, KPUD Prov. Kita harus menginap mengawal suara. Allah bersama kita.”

“Alhamdulillah HADE menang sekelurahan samoja. Jazakumullahu khoiron katsiron atas dedikasi sahabatyang telah menjadi tim sukses HADE pisan euy samoja semoga allah swt memberkahi dan menjadikan amal jihad terbaik, mohon maaf atas khilaf dan salah yang terjadi serta pelayanan kami yang tdk berkenan, smg allah mengampuni….berharap bhw kebersamaan qt dalam tim ini menjadi awal tanpa akhr kebersamaan dalam berjuang di jalan illahi.allahu akbar. C U in the next action =)”

“alhamdulillah akhirnya harapan ini terjawab juga. Satu yang menjadi kesan ternyata kerja tim yang begitu kompak. Jujur aja saya sebagai orang baru merasa nyaman bergabung dengan sahabat2 di PKS, hatur thanks kepada semuanya. Slm dr QQ”
Kalimat-kalimat diatas merupakan SMS yang saya dapat dari teman-teman PKS di kota bandung ketika saya menjadi saksi Pemilihan gubernur jawa barat untuk pasangan nu HADE pisan, Kang hery dan kang dede. Hari itu saya memang diminta bantuan oleh seorang sahabat yang menjadi ketua DPRa PKS di daerah Samoja untuk menjadi saksi. Saya yang sekarang telah kembali menjadi warga jakarta diminta bantuan untuk mem-back up tim HADE pisan euy Samoja yang memang kekurangan orang. Di Samoja hanya ada 3 orang akhwat, dan sama sekali ga ada kader PKS ikhwan. Bahkan ketua DPRa-nya pun seorang akhwat. Padahal daerah itu merupakan daerah rawan, karena dikuasai oleh pendukung sebuah partai yang terkenal karena banyak premannya.
Padahal awalnya saya ingin menjadi saksi di kampung papa di indramayu yang memang rawan. Indramayu yang dikuasai sebuah partai besar memang sangat rawan kecurangan. Sewaktu PEMILU dan PILPRES, kader PKS disana ditekan habis-habisan oleh satgas partai lain. Mungkin hanya di keluarga saya saja mereka tidak berani menekan karena kakek salah satu orang terpandang di kampungnya. Padahal adik sepupu saya terang-terangan memasang bendera PKS ukuran besar di depan rumah kakek, diantara jajaran bendera kuning (emang ada yang meninggal ya?). Pemasangan bendera itu sempat bikin geger sekampung karena daerah itu merupakan kampung halaman wakil bupati indramayu yang memang pendukung sebuah partai besar (dia juga adik dari nenek saya). berkaca dari PEMILU sebelumnya, Makanya saya ga rela kalo suara bang her yang memang jujur, dikerjain oleh pasangan lain. Sayang saya tidak sempat berkoordinasi dengan sahabat-sahabat saya disana sehinga sulit untuk mendapatkan kartu saksi. Lagipula amanah saya di bandung cukup padat.
Pagi itu saya salah mendapat info, sehingga nyaris telat sampai di TPS dan ditolak sebagai saksi. Alhamdulillah saya datang beberapa menit sebelum jam 7, jadi tetap bisa menjadi saksi. Wah ternyata TPS tempat saya menjadi saksi cukup bersahabat. Dua saksi dari pasangan lain, asyik diajak koordinasi. Dari pasangan DA’I, seorang ibu dan dari AMAN seorang bapak yang memang ga terlibat banyak di politk. Mereka hanya simpatisan yang tidak politis. KPPS-nya pun sangat kooperatif dan iklimnya kekeluargaan sekali.
Anda bayangkan saja, setiap mengambil keptusan pak ketua KPPS pasti bertanya pada saya “mas, ini gimana ya? Ada masalah seperti ini. gimana dong?” bahkan saksi dari pasangan lain sering bertanya banyak hal pada saya tentang peraturan pilkada. Konyolnya ketika saksi harus mencek surat suara dll, saksi lainnya hanya berkata “mas, cukup mas aja yang periksa. Kami mah percaya aja.” Lah bisa ane kerjain nih!
Bahkan saksi dari pasangan lain “curhat” bagaimana kacaunya partai yang didukungya. Seorang saksi bahkan mengomentari partainya dengan berkata “eta mah preman hungkul!!”, kacau!!! Si ibu pun bertanya, “mas, dari jakarta kan? Dibayar berapa sama HADE supaya mau jadi saksi?”. Dan saya jawab “ saya mah kader PKS bu! Gratis!!! Siap diterjunkan dimana saja. Kalo besok PILKADA JATENG dan JATIM saya diminta jadi saksi, saya siap untuk terjun ga dibayar”. Si ibu dan bapak dari saksi pasangan lain jelas aja kaget. Karena di beberapa TPS lain, saksi dari pasangan mereka tidak hadir padahal sudah dibayar. Dalam hati mah saya ketawa, kalo ada teman-teman saya dengar saya bilang seperti itu pasti saya diledek habis-habisan. Maklum, saya kan kader tarbiyah yang oposisi PKS:D
Yang lucu, saksi dari HADE mendapat pelayanan yang baik dari sahabat-sahabat PKS. Saya dapat makan siang, snack, minum dan sering dicek oleh teman-teman yang mobile. Ditambah minum, snack, dan makan siang dari KPPS. Jadi di meja saya ada 4 kotak makanan, sampai ibu dari saksi Dai berkata “ mas, HADE mah hade pisan euy”.Pokoknya mah aman damai gemah ripah loh jinawi lah….
Kondisi ini ironis, karena dari awal saya diminta terjun untuk mengawal daerah yang rawan kecurangan. Saya yang mantan negosiator pasukan tempur PKS dan mantan aktivis kampus diharapkan bisa menekan tingkat kecurangan oleh KPPS dan saksi lain, minimal kalo mau adu otak, adu bacot dan adu otot dengan mereka mah saya masih kuat. Ternyata saya malah ditempatkan di daerah yang aman. Padahal di TPS lain, saya dapat kabar kalo saksi HADE “dikerjain” KPPS dan saksi lainnya. Dan peluang kecurangan sangat besar. Ah konyol lah….
Akhirnya hasil akhir di TPS saya pun dihitung. Tenyata pin di dada agum bisa menyesatkan juga, sekilas kami melihatnya sebagai lubang coblosan. Saya beberapa kali terkecoh dengan pin itu. Apakah itu disengaja? Hanya agum dan pendukungnya yang bisa jawab. Saya harus menerima kenyataan kalo HADE kalah di TPS saya. Hasil akhirnya DA’I 105, AMAN 84, HADE 66 dan suara tak sah ada 6 suara. Ternyata daerah ini tidak digarap sama sekali oleh teman-teman tim HADE Samoja karena dikira bukan bagian dari samoja, jadi wajar jika kalah. Seorang ibu petugas KPPS bahkan berkata “ mas, HADE hebat euy. Dapet suara segitu. Padahal disini ga ada sosialisasi sama sekali.”, ternyata benar ga digarap.
Setelah di TPS, saya mengawal suara hingga kelurahan. Konyolnya, ada kesalahan di penulisan form C1 sehingga kotak harus dibongkar. Karena saksi lainnya sudah pulang, maka saya sendiri yang menyaksikan pembongkaran dan perubahan form C tersebut. Dan saksi lainnya baru datang ketika semua sudah selesai. Dan relawan HADE menguasai kelurahan. Kebayang aja, markas kami di aula kelurahan samoja. Jadi di aula tersebut hanya ada kotak suara dan relawan HADE yang sedang merekap hasil perhitungan suara. Bahkan kami seperti konsultan bagi petugas KPPS bila ada kesalahan disana. Aneh banget sih!!! Di kelurahan ini kami menang di 14 TPS dan kalah di 10 TPS tipis lainnya. Hasil yang baik jika dilihat dari jumlah kader yang ada di kelurahan ini.
Setelah dari Kelurahan, karena tidak ada ikhwan lainnya saya bersama seorang simpatisan mengawal kotak suara ke kecamatan batu nunggal. Wajah-wajah ceria kemenangan relawan HADE, meyambut kami di kecamatan. Celetukan-celetukan konyol mereka membuat suasana semakin meriah. Pertanyaan standarnya “ menang sabaraha?”, dan dijawab dengan bangga “menang 2000 euy!!kita 4000, aman 2000”. Edun pisan!!!. Atau jawaban “ kita syahid dua euy” untuk menjelaskan 2 TPS di kelurahannya yang kalah. Tapi pertanyaan buat saya agak berbeda, selain pertanyaan hasil suara, mereka juga bertanya “sejak kapan nte jadi orang Samoja akh? Nte KTP mana?”, dan disambut yang lain “iyeu mah barudak kampus, masih ti kepanduan nteu?”. Mereka bingung ketika melihat saya nongol mengawal kotak suara dari Samoja. Karena sebagian mereka kenal saya sebagai aktivis kampus dan kepanduan. Dan yang jelas bukan orang samoja, karena di samoja tidak ada kader ikhwan☺
Hari yang melelahkan, saya baru sampai di rumah pukul 10 malam. Dan langsung tidur karena sudah tidak kuat lagi. Tapi tidur kelelahan dengan kepuasan karena calon gubernur yang saya dukung akhirnya berhasil memenangkan pilgub JABAR (minimal di hasil quick count). Selamat menunaikan amanah umat untuk kang heryawan dan kang dede. Pokoknya kalo kalian korupsi, saya orang yang paling depan mendobrak gedung sate untuk nurunin kalian bedua!!!

menikah setelah mapan?

“ha..ha..ha..senasib sama calon ane. Dia ditolak ortu ane karena dianggap madesu (masa depan suram)”
dezigh!!!!SMS balasan yang saya terima dari seorang sahabat akhwat ketika saya bilang kalo banyak calon mertua yang belum bisa menerima ikhwan-ikhwan yang masih merintis bisnis seperti saya. Apalagi bisnis saya terkesan sebagai “pekerja kasar” yang tak bermasa depan karena tidak hidup mapan. Dan sekarang saya harus benar-benar membangun bisnis saya dengan keringat, darah dan air mata. Yup, benar, darah dalam arti sebenarnya. Ga sekali-dua kali saya harus cedera dalam merintis bisnis saya. Tapi itulah pilihan hidup yang saya ambil.
Jelas saja SMS tadi benar-benar menampar saya dengan keras. Saya yakin dia tidak bermaksud menyinggung, tapi SMSnya menguak kembali luka lama yang sudah berusaha saya sembuhkan. Luka lama hingga saya pernah berkata “ntar gue bawa land rover defender atau BMW gue lewat depan rumahnya biar tuh ortu nyesel setengah mati udah nolak gue!!! Kalo perlu, gue gas-gas dan klakson di depan rumahnya”. Trus ketika teman saya bertanya,” kalo akhwatnya mo balik lagi ke lo gimana?”. Saya jawab “gue ga mau! Ngapain juga! pokoknya sekarang gue akan berusaha keras buat buktiin ke orang-orang itu kalo pendapat mereka salah!!”. “ kita lihat siapa yang akan tersenyum terakhir!”, lanjut saya dengan mantap. Luka lama yang membuat keluarga besar saya gempar, dan berkata “makanya lo kerja yang bener dulu, cari kerja yang gajinya gede. Jangan kerja sosial mulu!”. Luka lama yang membuat saya hampir meninggalkan idealisme saya. Luka lama yang membuat saya benar-benar merasa jatuh. Yup, tapi seperti yang saya bilang, itu semua hanya luka lama. Luka bisa sembuh, walaupun mungkin membutuhkan waktu lama. Saya punya masa depan. Itulah yang akan saya capai. Biarlah itu sebagai bahan bakar yang membuat motivasi saya semakin terpacu. Dan saya tidak keberatan jika harus merintisnya dengan cucuran keringat, darah dan air mata.
Yup, tapi saya akan buktikan kalo keputusan mereka salah. Saya yakin, karena Seseorang yang sangat kukenal pernah membuktikannya. Dulu ia ditolak oleh calon mertuanya yang tuan tanah karena dianggap tidak bermasa depan cerah. Ia yang seorang aktivis, hanya menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta dan hanya anak seorang guru di SD kampung dianggap tidak layak menjadi menantu si tuan tanah itu. Sekarang si wanita dan keluarganya menyesal setengah mati karena pernah menolak lelaki itu. Si lelaki akhirnya menikah dengan seorang anak pejabat Bank Indonesia. Karena integritas dan kapasitasnya, Sekarang ia menjadi birokrat di PEMDA Jakarta dan karirnya terus bersinar. Dan yang jelas, ayahnya yang hanya guru SD kampung sekarang menjadi orang terpandang di kampungnya karena semua anaknya berhasil menjadi orang sukses. Ada yang sukses menjadi guru besar hingga manajer di perusahaan multinasional. Yang pernah menolak? Ya sekarang hanya bisa gigit jari!!! Tanahnya habis dijual. Sekarang ia hanya menjadi “orang biasa”. Bahkan sekarang si wanita menjilat ludahnya sendiri ketika berkata ke adik dari lelaki itu “duh coba saya yang dulu menikah dengan dia, pasti ikutan sukses kaya gitu”. Tetapi Adik dari lelaki itu hanya berkata “ ya engga lah!! Pasti beda. Si mba mah hebat, dia bisa dampingin Aa dengan baik. Kalo nikah sama kamu mah pasti ga akan sesukses itu”. Dezigh……..nampol banget kan!? Telek banget!!!
Saya jadi ingat dengan almarhum ustadz muslim zainuddin. Ustadz provokator nikah dari kota bandung ini, Dalam sebuah provokasinya pernah berkata bahwa ikhwan-ikhwan sekarang harus banyak mencari uang, karena biasanya ketika seorang akhwat berkata mau menikah pada orang tuanya, si orang tua pasti bertanya “calonnya kerja dimana? penghasilannya berapa?”. Sedangkan para akhwat harus rajin-rajin ke salon untuk mempercantik diri, karena biasanya ketika seorang ikhwan meminta orang tuanya melamar seorang akhwat, pertanyaan pertamanya ialah “ calonnya cantik ga”. Ternyata setelah saya melakukan survei kecil-kecilan, pernyataan ini benar adanya. Rata-rata orang tua ikhwan maupun akhwat menanyakan hal serupa.
Atau cerita big bos lajnah munakahat DPD kota bandung pada sebuah daurah pra nikah. Acara mempersiapkan kader untuk memasuki jenjang pernikahan itu dihadiri oleh hampir semua ikhwan akhwat yang belum menikah di kota bandung. Ketika materi sedang berlangsung, saya bicara bedua dengan dia. Dia cerita tentang proses-proses unik di kota bandung hingga suatu ketika ia menunjuk seorang akhwat dan berkata “ ma, tuh ada akhwat yang pernah menolak binaan ane karena ikhwannya dianggap belum mapan,. Sampe sekarang tuh akhwat belum nikah, padahal binaan ane sekrang udah punya anak satu”. Nah lho….kena karma?:D
Jika ia bisa, Maka saya pasti akan sanggup lebih baik darinya!!! Saya akan buktikan bahwa idealisme saya akan membuat saya sukses. Selamat memilih! Karena hidup adalah pilihan!!! Tanggung semua konsekuensi pilihan kita!!! ayo idzma semangat!!!!!:)

bertualang di ITC Cempaka mas

Kenapa judulnya bertualang di ITC cempaka mas? karena menurut gue itu adalah sebuah petualangan. Dari dulu gue paling males namanya masuk ke iTC. gue ga suka kerumunan banyak orang apalagi diuber-uber tukang jualan sambil ditawarin macem-macem barang. akhirnya tadi gue m asuk juga ke ITC. rencananya sih mo beli mouse dan survey harga HP karena HP gue udah harus masuk musium.

 Ini pengalaman gue juga pertama kali naik motor jauh dari rumah. Gue yang termasuk angkoter, terkenal paling males bawa motor. Alesannya sederhana, ribet. gue seneng naik busway atau angkot supaya dijalan bisa sambil baca buku atau tidur!!! dan tadi gue nekat naik motor adik gue yang kebetulan nganggur. lumayanlah, sekarang gue berani ngebut dan nyelip-nyelip di antara kemacetan

Jakarta

. Padahal mah dulu, gue lebih milih loncat dari air terjun dibandingkan ngebut di jalan raya:D

Yes, sampe di ITC dengan selamat. Gila, di depan gue ada sepasang suami istri yang berantem di motor. Kepala si ibu yang masih memakai helm dipukul si bapak dengan helm. Gue kaget banget, kalo tuh bapak mukul lagi gue bakal turun dari motor dan ikut campur. Ternyata pertengkaran mereka tak berlanjut, mungkin karena malu dilihat banyak orang. Ok, berarti gue ga usah ikut campur.

Gue cuek aja parkir dan masuk ke ITC. Trus gue keliling-keliling nyari tempat yang jual HP dan komputer. Ternyata letaknya di lantai 5. Gue yang paling males nawar harus keluar masuk toko supaya dapet harga yang pas. Yes !!! akhirnya gue dapet mouse dengan kualifiksasi dan juga harga yang pas . Sebenernya pengen beli pointer, sekalian untuk presentasi. Tapi harganya mahal euy!!! uang gue ga cukup. ya udah, nnt aja deh kalo gue udah stabil penghasilannya.

Ok, saatnya sholat dzuhur. nah Lho......masjidnya dimana? gue tanya ke beberapa penjual, rata-rata ga tau. apa mereka ga pernah sholat? akhirnya gue menjelajah dari lantai 6 sampe basement dan akhirnya gue nemu musholah kecil dan jorok di basement. kalo memang ini hanya mushola satu-satunya di ITC cempaka mas, maka pengelolanya keterlaluan!!!!masa gedung sebesar itu, cuma punya mushola seuprit!? kacrut!!

Nah saatnya pulang. tapi gue naro motor dimana ya? nah lho! gue lupa naro motor dimana!!! maklumlah angkoter, ga pernah merhatiin tempat parkir, maklum biasa dianter jemput supir :).Akhirnya gue terpaksa keluar masuk parkiran buat nyari motor gue. udah gitu disana ga cuma ada satu parkiran dan masing masing area parkir berjarak lumayan jauh. yeah....setelah keluar masuk beberapa areal parkir dan tanya-tanya  ke petugas parkirnya, akhirnya gue nemu juga areal parkir yang tepat. Tapi motor gue yang mana ya? halah gue lupa plat nomernya! terpaksa buka STNK. gue tau motornya yamaha vega R, tapi lupa no platnya. Bego banget

kan

......stelah sedikit berjuang dan mencocokkan no plat dan STNK. akhirnya bisa juga keluar dari ITC dan pulang ke rumah.....

Ada

yang unik, gue liat banyak ibu-ibu keluar masuk toko dan muter-muter ITC bawa tengtengan belanjaan seabrek-abrek. kok mereka kuat ya? gue aja cape. Padahal kalo dihitung jaraknya

kan

bisa ratusan meter. bawa belanjaan pula. Tapi anehnya kalo sehari-hari mereka paling malas jalan sejauh itu. seringkali untuk jalan kaki masuk ke jalan komplek rumah saja mereka malas dan naik ojek. Tapi ini mereka bisa kuat keluar masuk dengan tengtengan seabrek. udah gitu yang gue salut adalah kemampuan nawar mereka. gila aja kuat nawar berjam-jam eh setelah itu ditinggal gitu aja karena harganya ga pas. Edun

kan

? ah memang beberapa jam yang banyak cerita...:D

 

kaya hati dengan bertualang

    Kita selalu melihat sebelah mata para petualang dan pecinta alam. Mereka dengan ransel lusuhnya terlihat sebagai orang-orang yang tak bermasa depan cerah. Orang-orang liar yang tak punya aturan. Imej buruk ini diperparah dengan ulah para petualang itu sendiri yang seringkali seenaknya dan tak punya aturan. Hidup mereka terlalu bebas sehingga sering melanggar norma  yang berlaku di masyarakat. Padahal pengalaman saya sebagai seorang bacpacker, merasakan hal yang bertentangan dengan itu semua. Seorang petualang harusnya orang yang punya nilai lebih dimata masyarakat. Seirang petualang harusnya orang yang menghargai norma dan nilai yang berlaku dimasyarakat mengingat mereka akan banyak bersentuhan dengan orang-orang baru. Merekalah orang-orang yang telah melihat dunia luar. Seharusnya seorang petualang adalah orang yang kapasitas dan kesalehannya melebihi orang yang tidak pernah bertualang. Saya yakin semua petualang mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak dari orang yang tak pernah pergi keluar kota sama sekali.         Seharusnya para petualang adalah orang yang kaya hati karena pengalamannya.       Saya termasuk orang yang “insyaf” karena petualangan. Petualangan lah yang mengembalikan saya ke jalan lurus. Setiap perjalanan saya selalu menorehkan pengalaman ruhiyah yang membekas hingga kini. Sebuah pengalaman yang selalu membuat saya terpacu untuk jadi lebih baik lagi.
    Jika saya ingat perjalanan saya ke Semeru pada tahun 2000, saya akan terbayang panasnya api neraka jika membakar tubuh saya yang penuh dosa. Dengan mata kepala sendiri saya melihat efek yang ditimbulkan batu pijar yang disemburkan oleh kawah Mahameru terhadap tubuh kita. Saya terlibat evakuasi beberapa vulkanolog yang beberapa bagian tubuhnya berlubang karena batu yang panasnya ribuan derajat tersebut. Saya melihat dengan jelas bagaimana batu panas tersebut membuat tubuh para vulkanolog tersebut meleleh laiknya mentega yang dipanaskan. dua orang harus kehilangan nyawa dengan kepala dan perut meleleh terhantam batu panas tersebut, seorang harus hidup dengan setengah punggungnya berlubang akibat meleleh dan lainnya harus merasakan panasnya batu menembus kulit dan tulang mereka. Ya allah bagaimana dengan api neraka yang panasnya berkali lipat dari panas api di dunia?         Perjalanan saya ke gunung merbabu dan gunung lawu pun membuat saya tersadar akan kematian. Di merbabu saya tersesat jauh dan sempat shock ketika melihat batu-batu nisan para pendaki yang  berserakan disana. Di lawu saya terjebak badai dan kedinginan hingga berhalusinasi melihat hal-hal yang tidak ada. Semua pakaian dan jaket saya telah basah oleh air hujan. Hanya bergerak dan berjalanlah yang membuat saya tetap hangat. Diam berarti saya menunggu malaikat maut menjemput saya. Dan Saat itu saya berpikir bagaimana jika allah menakdirkan saya tidak bisa kembali dan harus mengakhiri hidup saya meringkuk kedinginan di malam yang gelap di tengah hutan?
    Perjalanan sebagai relawan bencana mengingatkanku atas kekuasaan Allah pada ciptaannya.  Bagaimana allah berkehendak dan menghancurkan segala keangkuhan manusia. Allah meluluh lantakkan Aceh dan Pangandaran hanya dengan sekali sapuan ombaknya.  Allah luluh lantakkan jogja, bengkulu dll dengan hanya sekali guncangan. Mayat-mayat bergelimpangan, bangunan luluh lantak, dan segala harta benda musnah tersapu gelombang. Ya allah…bagaimana jika kiamat kelak? Kehancuran seperti apakah yang akan terjadi? Dan ketika bumi diguncangkan, maka bumi seperti anai-anai yang diterbangkan angin. Para petualang adalah orang-orang yang melihat langsung kebesaran allah. Indahnya memandang sunrise sambil menikmati secangkir kopi panas di puncak gunung, merenung di pantai pasir putih sambil memandang laut yang membiru, semburat merah matahari yang  menuju peraduannya dengan ditemani debur ombak dan kicau burung. Menikmati pemandangan diatas tebing curam yang berhasil didaki, menikmati secangkir teh hangat di pinggir api unggun di tengah malam yang dingin. Menikmati kicau burung, suara primata yang bersahut-sahutan diantara rerimbunan hutan tropis. Menelusuri gelapnya gua, percikan air terjun yang menyegarkan, menyusuri jeram-jeram sungai dan semua aktivitas yang  merupakan kenikmatan yang tak terlupakan. Lalu Nikmat  allah manakah yang akan kita dustakan?
    Para petualang adalah orang yang kaya pegalaman dengan orang-orang baru. Orang yang harusnya banyak belajar dengan orang-orang yang ditemui selama perjalanannya. Militansi para da’i di pelosok nusantara, kearifan lokal masyarakat dalam menjaga norma dan kelestaian alam, keberanian para nelayan menantang terjangan ombak demi anak istrinya. Dan juga belajar dari “guru-guru” yang ditemui di sepanjang jalan yang kita tempuh. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Terlalu banyak cerita untuk ditulis, terlalu banyak kebesaran allah yang kami lihat. Bahkan jika seluruh lautan menjadi tinta dan seluruh pohon dijadikan pena, maka tidak akan pernah cukup menulis kebesaran ALLAH yang ditunjukkan pada kita. Ya allah berikanlah kami pelajaran dari setiap perjalan yang kami lalui. Semoga setiap pengalaman dan perjalanan membuat kami menjadi hamba yang lebih baik lagi.

bertemu gerilyawan.......

Pernah bertemu dengan gerilyawan? Apa yang anda pikirkan jika mendengar kata gerilyawan? Anda pasti berpikir bahwa gerilyawan adalah orang-orang bersenjata yang bertempur dan bergerak di pedalaman hutan, dalam jumlah kecil namun massif. Ada beberapa kelompok yang identik dengan gerilyawan, OPM, GAM, pejuang vietcong, khmer merah dll. Indonesia sendiri terkenal dengan taktik perang gerilya-nya, seperti yang dicontohkan panglima besar soedirman yang bergerilya menggempur kekuatan belanda di jogja. Pilihan perjuangan dipakai dengan cara gerilya diambil ketika kekuatan pasukan tidak sebanding dengan kekuatan musuh, jadi diambil keputusan melakukan gangguan dalam jangka panjang dengan harapan kekutan musuh semakin lama semakin lemah karena gangguan tersebut. Setelah musuh lemah dan pendukung semakin kuat, baru kemudian mereka melakukan peperangan terbuka dan berusaha mengambil alih kekuasaan.

Dalam petualangan dan perjalanan saya ke daerah-daerah di pelosok indonesia saya banyak bertemu dengan para gerilyawan ini. oh ya? Iya benar, saya bertemu dengan para gerilyawan tersebut. Karena yang saya maksud dengan gerilyawan disini ialah para da’i dan aktivis dakwah yang berjuang di pelosok-pelosok indonesia. Mereka hanya sendiri atau beberapa orang saja namun mereka harus berjuang menyebarkan islam di daerah yang luas dan dengan medan dakwah yang sulit. Baik karena kondisi alam, geografis, maupun sosial. Mereka saya sebut dengan gerilyawan karena pilihan cara gerak mereka. Mereka bergerak sendirian (walau terhubung dengan jaringan nasional bahkan global) naik turun gunung, keluar masuk hutan, menyebrangi pulau, merintis sedikit demi sedikit dakwah di daerah garapan mereka. Membina orang sedikit demi sedikt namun hasilnya nyata. Mengumpulkan pendukung sedikit demi sedikit baru kemudian melakukan dakwah secara terbuka setelah pendukungnya dirasa banyak.

Ada banyak gerilyawan yang berjuang di seantero nusantara, namun yang akan saya ceritakan adalah gerilyawan yang saya temui sendiri dalam perjalanan saya. Yang pertama ialah yang saya temui ketika mengikuti daurah (pelatihan keislaman) di sebuah pesantren di Cililin, kabupaten Bandung. Ketika saat istirahat, sambil menunjuk sebuah ruangan, seorang teman berkata “ma, tuh ada daurah macan gunung”. Awalnya saya bingung apa maksudnya macan gunung. Ia kemudian menjelaskan bahwa di ruangan sebelah ada daurah da’i se-kabupaten Bandung. Mereka dijuluki macan gunung karena wilayah dakwahnya yang ada di gunung-gunung di daerah kabupaten Bandung. Mereka berdakwah di desa-desa di pegunungan yang mengelilingi kota bandung. Tak jarang jarak satu desa ke desa lainnya mencapai puluhan kilometer. Mereka tempuh jarak sejauh itu dengan motor butut, sepeda, bahkan berjalan kaki. Sedikit gambaran, kota Bandung dikelilingi oleh kabupaten Bandung (yang sekarang dibagi menjadi kabupaten Bandung, kota cimahi dan kabupaten bandung barat) yang wilayahnya terdiri dari pegunungan dan hutan. Satu kecamatan di kabupaten Bandung, luasnya bisa mencapai beberapa kecamatan di kota Bandung. Terbayang bagaimana luasnya kabupaten Bandung kan?

Seorang teman pernah bercerita, ketika sedang mendaki gunung manglayang, ia melihat seorang ustadz yang sedang mengisi pengajian di sebuah desa yang terletak di kaki gunung manglayang. Kami semua tahu kalau rumah ustadz tersebut tidak disana, karena kami juga sering bersilaturahim ke rumahnya. Terbayang perjalanan yang harus ditempuh ustadz tersebut untuk menuju desa yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki teresbut. Kami saja yang seorang petualang dan pendaki, sedikit kewalahan mencapainya, namun ustadz itu rutin mengisi disana.

Gerilyawan yang saya temui selanjutnya ialah ketka saya melakukan program trauma healing pasca gempa di bengkulu utara. Suatu ketika, kami yang menjadi tamu dari wakil bupati Bengkulu Utara diajak untuk menghadiri peresmian masjid di sebuah desa di pelosok bengkulu utara. Untuk mencapai jalan masuk ke daerah tersebut, dari kota Bengkulu kami harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam dengan mobil. Kemudian dari jalan masuk tersebut kami harus menempuh sekitar 45 menit perjalanan naiik turun bukit dan masuk ke pedalaman. Jalan yang ada hanya jalan tanah yang becek ketika hujun turun, yang hanya pas dilewati satu mobil. Bahkan kami harus melewati sungai dengan jembatan yang terbuat dari pohon kelapa. Wah menegangkan!!!

Ketika tiba di desa yang kami tuju, tiba-tiba terdengar seorang nenek yang mengajak bernyanyi seorang cucunya. Mereka menyanyi bukan dengan sembarang lagu, namun mereka menyanyikan Nasyid “ila liqo”!!! jelas saja kami kaget, karena nasyid itu biasanya hanya dinyanyikan oleh aktivis-aktivis senior sebelum era keterbukaan. Aktivis jaman sekarang mungkin banyak yang tidak hapal nasyid tersebut (termasuk saya, yang hanya tahu namun tidak hapal). Kami yang kaget, bertanya kepada seorang relawan lokal yang mendampingi perjalanan kami. Ia bercerita bahwa, daerah ini merupakan daerah garapan seorang ustadz di Bengkulu. Seminggu sekali ia ke desa tersebut untuk mengisi pengajian dan halaqoh. Dan anda tahu apa yang dulu digunakan si ustadz untuk mencapai daerah tersebut? Sepeda!!! Betul sekali, ustadz tersebut dengan sepedanya, turun naik gunung, keluar masuk hutan untuk berdakwah. Sedikit demi sedikit merintis dakwah di kampung-kampung transmigran dan penduduk asli di pelosok bengkulu utara. Ada beberapa ustadz yang saya kenal di bengkulu yang hingga sekarang masih eksis berdakwah di pelosok-pelosok bengkulu utara dengan fasilitas seadanya. Hasilnya nyata! Sekarang mereka mempunyai pendukung dakwah yang militan di pelosok-pelosok bengkulu. Dan hasil yang paling mudah terlihat dari dakwahnya ialah, Jika dulu ia berdakwah dengan menunggang sepeda atau motor tuanya, maka sekarang ia berdakwah dengan menunggang Nissan X-trail yang menjadi mobil dinasnya sebagai wakil bupati bengkulu utara. Ya, saat ini sang ustadz dipercaya masyarakat sebagai wakil bupati di Bengkulu Utara. Ia sekarang berdakwah dan berjuang sebagai pemimpin umat disana. Kebijakannya yang prorakyat, kebersahajaannya dan keramahannya membuat ia dekat dengan rakyatnya. Kami langsung menunduk malu mendengar cerita tersebut. subhanallah……..

Selain para ustadz senior diatas, saya pernah menginap di base camp aktivis di padang. Suatu waktu seorang aktivis pulang ke base camp jam 10 malam. Ketika saya tanya darimana, ia menjawab bahwa ia baru saja mengisi mentoring di sekolah. Saya jelas aja protes dan bilang kalau bisa mentoring sekolah jangan malam seperti itu. Sebagai aktivis dakwah sekolah, saya cukup paham bagaimana rawannya mentoring malam hari bagi anak SMA Karena bisa menimbulkan fitnah dan prasangka dari orang tua dan pihak sekolah. Dia dengan kalem menjawab, “mentoringnya tadi sore kok, akh”. Lalu ketika saya tanya kenapa baru pulang, ia menjawab “ ane ngisinya di sekolah ane, di painan akh!!!”. Saya jelas kaget, karena Painan terletak di pesisir selatan sumatera barat dan berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari Padang. Terbayang jika setiap seminggu sekali ia harus mengisi mentoring di sekolahnya. Hal yang sama ketika saya bertemu seorang aktivis dakwah sekolah di bengkulu, setiap semingu sekali ia mengisi mentoring di sekolahnya yang terletak di bengkulu utara (berjarak sekitar 2 jam perjlanan dengan motor/mobil). Mereka melakukan itu untuk merintis pendirian dakwah sekolah di daerah-daerah tersebut.

Terakhir ketika saya bertualang keliling jawa, saya bertemu seorang ikhwan di pantai pangandaran. Dia hanya lulusan SD dan berprofesi sebagai nelayan. Dia menjabat ketua DPC sebuah partai dakwah disana. Seperti kita tahu, pangandaran seperti tempat wisata lainnya juga punya sisi gelap karena banyak terjadi penyakit masyarakat seperti prostitusi, judi, miras dan obat-obatan terlarang disana. Masyarakatnya pun seolah tutup mata dengan penyakit masyarakat tersebut, bahkan banyak dari mereka yang terlibat kegiatan tersebut. Ikhwan tersebut merintis dakwah disana dengan menghidupkan masjid-masjid di sekitar pangandaran. Mengaktifkan TPA-TPA dan pengajian masyarakat disana. Ia berjuang dengan dibantu beberapa aktivis lainnya. Selain pantai pangandaran, ia juga harus menggarap beberapa kecamatan di sekitar ciamis selatan. Yang akses jalannya masih rusak dan wilayahnya sangat luas. Sehingga untuk mencapainya diperlukan waktu sekitar 4 jam menggunakan motor, dan seringkali harus ditempuh di malam hari dengan penerangan seadanya. Pasca tsunami yang melanda pangandaran, ia mendapatkan tenaga baru dengan bergabungnya beberapa aktivis dakwah yang bertugas di NGO di pangandaran. Juga beberapa aktivis yang menjadi PNS disana. Tapi tantangannya pun semakin berat dengan hancurnya perekonomian keluarganya pasca hilangnya perahu, jala, dan alat menangkap ikan lainnya akibat tsunami. Tsunami juga menghancurkan rumah dan mesjid tempat ia tinggal dan berdakwah. Ia harus mulai kembali semua usahanya dari nol. Yang ironis, ketika beberapa lembaga islam melakukan program relief di pangandaran, ia menjadi ujung tombak yang membantu menyebarkan bantuan untuk korban tsunami. Ia yang membantu lembaga-lembaga tersebut membagikan perahu kepada nelayan yang perahunya hilang. Namun ia sendiri tidak mendapatkan perahu gratis tersebut. Ia memang akhirnya mendapatkan sebuah perahu seharga 7 juta rupiah dari sebuah lembaga, namun ia harus mencicil perahu tersebut sebesar tiga ratus ribu rupiah setiap bulannya. Ditambah saat ini ikan semakin sulit didapat dan pariwisata pangandaran belum sepenuhnya pulih sehingga perekonomian keluarganya pun terus berdarah-darah. Ditambah amanahnya sebagai ketua DPC dan aktivitas dakwahnya yang membuat ia harus mengeluarkan pengeluaran lebih. Sekarang tantangannya semakin bertambah, ketika pasca tsunami NGO asing dan misionaris mulai masuk pangandaran dengan segala ideologi dan misi mereka. Dengan segala keterbatasannya, Ia harus berhadapan dengan para mucikari penguasa prostitusi, NGO asing dan misionaris yang malakukan kristenisasi hingga para penentang dakwah dengan dana yang tak terbatas. Tapi ia tidak pernah mengeluh dengan kondisi tersebut. Ia tetap berjuang dan berdakwah di daerahnya. Ia tetap bergerilya menyerang dan terus mencoba ber-amar ma’ruf nahi munkar. Saya tahu cerita tersebut pun bukan dari mulutnya, namun dari adik dan seorang sahabat di pangandaran.

Masih banyak cerita tentang para gerilyawan di seantero indonesia. Seperti para da’i hidayatullah yang diterjunkan di pelosok kalimatan dan papua. Yang harus berhadapan dengan penduduk asli yang masih terasing dan misionaris yang dilengkapi pesawat perintis. Atau para da’i yang “ditanam” di pelosok bengkulu yang saya temui ketika saya berada disana (ustadz taifuri dll). Perjuangan mereka benar-benar membuat saya malu. Saya yang hidup lebih dari cukup dan dengan tantangan dakwah yang ecek-ecek sering berpikir bahwa amanah saya terlalu besar dan ujub dengan capaian dakwah yang telah saya tempuh. Ternyata saya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka!!!! Seorang ustadz gerilyawan di pulau lombok berkata “seorang ikhwah yang mau menjadi perintis di daerah, harus siap mentalnya. Karena cobaannya akan sangat berat. Ia harus siap hidup sengsara dengan kondisi serba kekurangan. Namun nanti antum akan merasakan nikmatnya perjuangan itu akh”. Tausiyah yang membuat saya kembali terbakar. Dan menjadikan saya kembali bersemangat menjalankan amanah-amanah ummat.

Teruntuk para gerilyawan di seluruh penjuru bumi. Semoga allah mengistiqomahkan perjuangan kita semua. Bergerak tuntaskan perubahan. Kerja besar untuk perubahan besar!!!

ah pertanyaan itu lagi.......

Tiga hari kemarin, setelah pulang dari perjalanan saya selama 10 hari. Saya langsung bertugas membantu pernikahan tante saya (anak dari adik nenek saya). Saya yang baru tiba di rumah pukul 6 pagi setelah melakukan perjalanan selama 10 jam dari pangandaran harus langsung menyiapkan diri dan jam 8 harus sudah stand by disana. Tapi karena terlalu lelah saya baru tiba disana pukul 9. Tugas saya adalah sebagai fotografer dan membuat  multimedia slideshow proses pernikahan mereka untuk ditampilkan di resepsi. Kebayang kan saya yang masih lelah setelah bertualang selama 10 hari kemudian harus membantu pernikahan. Dan bisa ditebak, saya tak hanya bertugas menjadi fotografer tapi juga harus membantu logistik dll. Tugas sagala aya lah!!! Wah teler berat…….
     Sebenarnya saya agak malas untuk hadir di acara keluaga besar. Bukan karena saya tidak mau membantu pernikahan tante saya. Namun saya malas mendengar pertanyaan-pertanyaan dari keluarga besar saya. Ketika nenek-nenek (adik-adik dari nenek saya) berkumpul dan saya ada disana, pasti saya diintrogasi tentang :
Jadinya Kapan nikah?
Calonnya yang mana?
Calonnya cantik ga? Harus cantik ya! (Sambil membandingkan dengan calon-calon dari sepupu atau om saya)
Keluarganya gimana? Keturunan mana?
Katanya mo tahun ini?
Katanya mo nikah bulan april?
Kok sampai sekarang belum pernah dikenalin?
Katanya ibunya masih ga setuju ya?
Kan dulu kamu yang paling semangat? Kenapa sampe sekarang belum juga?
Orang bandung ya? Geulis atuh?

Dan biasanya pertanyaan berlanjut dengan.....
Pokonya kamu harus Cari yang cantik ya…..
Kamu kerjanya udah bener belum!?
Gajinya berapa?
Makanya jangan jadi petualang terus!
Makanya jangan mikirin orang lain terus!!
Kamu kerja sosial terus sih! Cari duit dong!!
Nanti mo dikasih makan apa istri kamu?

Dan semua pertanyaan-pertanyaan yang mulai menyerang idealisme yang selama ini saya pegang. Kebayang kan? Satu ibu-ibu saja nanya seperti ini sudah bikin kuping panas, apalagi ini sekumpulan ibu-ibu yang nanya seperti itu? Dan selalu terulang setiap saya bertemu mereka. Maklum keluarga saya sering kumpul bareng. Ketika ditanya mereka, saya hanya senyum-senyum sambil menjawab seenaknya
Iya tahun ini, tunggu aja kabarnya…..
Calon Aa pasti cantik lah!
Lagi ngumpulin duitnya dulu nih, mo nambahin duitnya ga?
Gaji mah ga penting, yang penting kan penghasilan gede……
Lagi bangun usaha dulu nih, ngelamarnya nanti aja kalo udah stabil. Dia mau nungguin kok!
(padahal mah belum tau siapa yang mo dilamar! He..he..he..)
Dan banyak jawaban asal lainnya. Walaupun masih bisa cengengesan menjawabnya, tetep aja dihati mah pedih banget! Lumayan bikin stress juga. Udah kerjaan gue bikin stress, bisnis berdarah-darah, amanah kacau balau, proses juga ga jelas-jelas (ga jelas sama siapa, hue..he..he…), eh ini lagi keluarga nambah-nambahin…..
Dan biasanya ketika saya tertekan, mama selalu cerita ketika dulu papa jadi bahan omongan keluarga besar karena pekerjaannya hanya guru honorer disebuah sekolah swasta. “Si papa mah cuek aja tuh A! dia maju terus” cerita bagaimana nekatnya papa ketika melamar mama yang anak pejabat BI. “Kan yang bilang gitu bukan mbah aki dan mbah istri (kakek-nenek saya), tapi itu cuma omongan yang lain aja. Jadi kamu juga jangan terpengaruh. Sekarang mah yang penting kamu tetap ikhtiar, mama yakin kok kamu mampu walaupun sekarang masih harus berjuang” lanjutnya. “keluarga kita mah ga masalah kamu nikah kapan dan sama siapa” sambil menunjuk ke keluarga mbah aki dan mbah istri. Kakek&nenek dan Adik-adiknya mama juga biasanya terus nyemangatin dan menawarkan bantuan. “pokoknya mah sekarang kamu usaha dulu, kerjaan kamu stabilin dulu. nanti kalo udah jadi kita bantuin deh” tawar mereka. Setelah itu biasanya saya pulih kembali dan terus memperjuangkan idealisme dan mimpi yang saya bangun. Yup, saya akan buktikan bahwa dengan pilihan hidup yang saya ambil saya juga akan tetap sukses! Curhat baget ya? Ah tapi saya yakin pertanyaan-pertanyaan tadi juga dialami ikhwan atau cowo seusia saya. Ayo semangat! Kita pasti bisa!!!He..he..he……