bertemu gerilyawan…….

Pernah bertemu
dengan gerilyawan? Apa yang anda pikirkan jika mendengar kata gerilyawan? Anda
pasti berpikir bahwa gerilyawan adalah orang-orang bersenjata yang bertempur
dan bergerak di pedalaman hutan, dalam jumlah kecil namun massif. Ada beberapa
kelompok yang identik dengan gerilyawan, OPM, GAM, pejuang vietcong, khmer
merah dll. Indonesia sendiri terkenal dengan taktik perang gerilya-nya, seperti
yang dicontohkan panglima besar soedirman yang bergerilya menggempur kekuatan
belanda di jogja. Pilihan perjuangan dipakai dengan cara gerilya diambil ketika
kekuatan pasukan tidak sebanding dengan kekuatan musuh, jadi diambil keputusan
melakukan gangguan dalam jangka panjang dengan harapan kekutan musuh semakin
lama semakin lemah karena gangguan tersebut. Setelah musuh lemah dan pendukung
semakin kuat, baru kemudian mereka melakukan peperangan terbuka dan berusaha
mengambil alih kekuasaan.

Dalam
petualangan dan perjalanan saya ke daerah-daerah di pelosok indonesia saya
banyak bertemu dengan para gerilyawan ini. oh ya? Iya benar, saya bertemu
dengan para gerilyawan tersebut. Karena yang saya maksud dengan gerilyawan
disini ialah para da’i dan aktivis dakwah yang berjuang di pelosok-pelosok
indonesia. Mereka hanya sendiri atau beberapa orang saja namun mereka harus
berjuang menyebarkan islam di daerah yang luas dan dengan medan dakwah yang
sulit. Baik karena kondisi alam, geografis, maupun sosial. Mereka saya sebut
dengan gerilyawan karena pilihan cara gerak mereka. Mereka bergerak sendirian
(walau terhubung dengan jaringan nasional bahkan global) naik turun gunung, keluar masuk hutan,
menyebrangi pulau, merintis sedikit demi sedikit dakwah di daerah garapan mereka. Membina orang sedikit demi
sedikt namun hasilnya nyata. Mengumpulkan pendukung sedikit demi sedikit baru
kemudian melakukan dakwah secara terbuka setelah pendukungnya dirasa banyak.

Ada banyak gerilyawan yang berjuang di seantero
nusantara, namun yang akan saya ceritakan adalah gerilyawan yang saya temui
sendiri dalam perjalanan saya. Yang pertama ialah yang saya temui ketika
mengikuti daurah (pelatihan keislaman) di sebuah pesantren di Cililin,
kabupaten Bandung. Ketika saat istirahat, sambil menunjuk sebuah ruangan,
seorang teman berkata “ma, tuh ada daurah macan gunung”. Awalnya saya bingung
apa maksudnya macan gunung. Ia kemudian menjelaskan bahwa di ruangan sebelah
ada daurah da’i se-kabupaten Bandung. Mereka dijuluki macan gunung karena
wilayah dakwahnya yang ada di gunung-gunung di daerah kabupaten Bandung. Mereka
berdakwah di desa-desa di pegunungan yang mengelilingi kota bandung. Tak jarang
jarak satu desa ke desa lainnya mencapai puluhan kilometer. Mereka tempuh jarak
sejauh itu dengan motor butut, sepeda, bahkan berjalan kaki. Sedikit gambaran,
kota Bandung dikelilingi oleh kabupaten Bandung (yang sekarang dibagi
menjadi kabupaten Bandung, kota cimahi
dan kabupaten bandung barat) yang wilayahnya terdiri dari pegunungan dan hutan.
Satu kecamatan di kabupaten Bandung, luasnya bisa mencapai beberapa kecamatan
di kota Bandung. Terbayang bagaimana luasnya kabupaten Bandung kan?

Seorang teman
pernah bercerita, ketika sedang mendaki gunung manglayang, ia melihat seorang
ustadz yang sedang mengisi pengajian di sebuah desa yang terletak di kaki
gunung manglayang. Kami semua tahu kalau rumah ustadz tersebut tidak disana,
karena kami juga sering bersilaturahim ke rumahnya. Terbayang perjalanan yang
harus ditempuh ustadz tersebut untuk menuju desa yang hanya bisa dicapai dengan
berjalan kaki teresbut. Kami saja yang seorang petualang dan pendaki, sedikit kewalahan
mencapainya, namun ustadz itu rutin mengisi disana.

Gerilyawan yang
saya temui selanjutnya ialah ketka saya melakukan program trauma healing pasca
gempa di bengkulu utara. Suatu ketika, kami yang menjadi tamu dari wakil bupati Bengkulu Utara diajak
untuk menghadiri peresmian masjid di
sebuah desa di pelosok bengkulu utara. Untuk mencapai jalan masuk ke daerah
tersebut, dari kota Bengkulu kami harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam
dengan mobil. Kemudian dari jalan masuk tersebut kami harus menempuh sekitar 45
menit perjalanan naiik turun bukit dan masuk ke pedalaman. Jalan yang ada hanya
jalan tanah yang becek ketika hujun turun, yang hanya pas dilewati satu mobil.
Bahkan kami harus melewati sungai dengan jembatan yang terbuat dari pohon
kelapa. Wah menegangkan!!!

Ketika tiba di
desa yang kami tuju, tiba-tiba terdengar seorang nenek yang mengajak bernyanyi
seorang cucunya. Mereka menyanyi bukan dengan sembarang lagu, namun mereka
menyanyikan Nasyid “ila liqo”!!! jelas saja kami kaget, karena nasyid itu
biasanya hanya dinyanyikan oleh aktivis-aktivis senior sebelum era keterbukaan.
Aktivis jaman sekarang mungkin banyak
yang tidak hapal nasyid tersebut (termasuk saya, yang hanya tahu namun tidak
hapal). Kami yang kaget, bertanya kepada
seorang relawan lokal yang mendampingi perjalanan kami. Ia bercerita bahwa,
daerah ini merupakan daerah garapan seorang ustadz di Bengkulu. Seminggu sekali
ia ke desa tersebut untuk mengisi pengajian dan halaqoh. Dan anda tahu apa yang
dulu digunakan si ustadz untuk mencapai daerah tersebut? Sepeda!!! Betul
sekali, ustadz tersebut dengan sepedanya, turun naik gunung, keluar masuk hutan
untuk berdakwah. Sedikit demi sedikit merintis dakwah di kampung-kampung
transmigran dan penduduk asli di pelosok bengkulu utara. Ada beberapa ustadz
yang saya kenal di bengkulu yang hingga sekarang masih eksis berdakwah di
pelosok-pelosok bengkulu utara dengan fasilitas seadanya. Hasilnya nyata!
Sekarang mereka mempunyai pendukung dakwah yang militan di pelosok-pelosok
bengkulu. Dan hasil yang paling mudah terlihat dari dakwahnya ialah, Jika dulu
ia berdakwah dengan menunggang sepeda atau motor tuanya, maka sekarang ia
berdakwah dengan menunggang Nissan X-trail yang menjadi mobil dinasnya sebagai
wakil bupati bengkulu utara. Ya, saat ini sang ustadz dipercaya masyarakat
sebagai wakil bupati di Bengkulu Utara. Ia sekarang berdakwah dan berjuang
sebagai pemimpin umat disana. Kebijakannya yang prorakyat, kebersahajaannya dan
keramahannya membuat ia dekat dengan rakyatnya. Kami langsung menunduk malu
mendengar cerita tersebut. subhanallah……..

Selain para
ustadz senior diatas, saya pernah menginap di base camp aktivis di padang.
Suatu waktu seorang aktivis pulang ke base camp jam 10 malam. Ketika saya tanya
darimana, ia menjawab bahwa ia baru saja mengisi mentoring di sekolah. Saya
jelas aja protes dan bilang kalau bisa mentoring sekolah jangan malam seperti
itu. Sebagai aktivis dakwah sekolah, saya cukup paham bagaimana rawannya
mentoring malam hari bagi anak SMA Karena bisa menimbulkan fitnah dan prasangka
dari orang tua dan pihak sekolah. Dia dengan kalem menjawab, “mentoringnya tadi
sore kok, akh”. Lalu ketika saya tanya kenapa baru pulang, ia menjawab “ ane
ngisinya di sekolah ane, di painan akh!!!”. Saya jelas kaget, karena Painan
terletak di pesisir selatan sumatera barat dan berjarak sekitar 4 jam
perjalanan dari Padang. Terbayang jika setiap seminggu sekali ia harus mengisi
mentoring di sekolahnya. Hal yang sama ketika saya bertemu seorang aktivis
dakwah sekolah di bengkulu, setiap semingu sekali ia mengisi mentoring di
sekolahnya yang terletak di bengkulu utara (berjarak sekitar 2 jam perjlanan
dengan motor/mobil). Mereka melakukan itu untuk merintis pendirian dakwah
sekolah di daerah-daerah tersebut.

Terakhir ketika
saya bertualang keliling jawa, saya bertemu seorang ikhwan di pantai
pangandaran. Dia hanya lulusan SD dan berprofesi sebagai nelayan. Dia menjabat ketua DPC sebuah partai dakwah
disana. Seperti kita tahu, pangandaran seperti tempat wisata lainnya juga punya sisi gelap karena banyak terjadi
penyakit masyarakat seperti prostitusi, judi, miras dan obat-obatan terlarang
disana. Masyarakatnya pun seolah tutup mata dengan penyakit masyarakat
tersebut, bahkan banyak dari mereka yang terlibat kegiatan tersebut. Ikhwan
tersebut merintis dakwah disana dengan menghidupkan masjid-masjid di sekitar
pangandaran. Mengaktifkan TPA-TPA dan pengajian masyarakat disana. Ia berjuang
dengan dibantu beberapa aktivis lainnya. Selain pantai pangandaran, ia juga
harus menggarap beberapa kecamatan di sekitar ciamis selatan. Yang akses
jalannya masih rusak dan wilayahnya sangat luas. Sehingga untuk mencapainya
diperlukan waktu sekitar 4 jam menggunakan motor, dan seringkali harus ditempuh
di malam hari dengan penerangan seadanya. Pasca tsunami yang melanda
pangandaran, ia mendapatkan tenaga baru dengan bergabungnya beberapa aktivis
dakwah yang bertugas di NGO di pangandaran. Juga beberapa aktivis yang menjadi
PNS disana. Tapi tantangannya pun semakin berat dengan hancurnya perekonomian
keluarganya pasca hilangnya perahu, jala, dan alat menangkap ikan lainnya
akibat tsunami. Tsunami juga menghancurkan rumah dan mesjid tempat ia tinggal
dan berdakwah. Ia harus mulai kembali semua usahanya dari nol. Yang ironis,
ketika beberapa lembaga islam melakukan program relief di pangandaran, ia
menjadi ujung tombak yang membantu menyebarkan bantuan untuk korban tsunami. Ia
yang membantu lembaga-lembaga tersebut membagikan perahu kepada nelayan yang
perahunya hilang. Namun ia sendiri tidak mendapatkan perahu gratis tersebut. Ia
memang akhirnya mendapatkan sebuah perahu seharga 7 juta rupiah dari sebuah
lembaga, namun ia harus mencicil perahu tersebut sebesar tiga ratus ribu rupiah
setiap bulannya. Ditambah saat ini ikan semakin sulit didapat dan pariwisata
pangandaran belum sepenuhnya pulih sehingga perekonomian keluarganya pun terus
berdarah-darah. Ditambah amanahnya sebagai ketua DPC dan aktivitas dakwahnya
yang membuat ia harus mengeluarkan pengeluaran lebih. Sekarang tantangannya semakin bertambah, ketika pasca
tsunami NGO asing dan misionaris mulai masuk pangandaran dengan segala ideologi
dan misi mereka. Dengan segala keterbatasannya, Ia harus berhadapan dengan para mucikari penguasa
prostitusi, NGO asing dan misionaris yang malakukan kristenisasi hingga para
penentang dakwah dengan dana yang tak terbatas. Tapi ia tidak pernah mengeluh
dengan kondisi tersebut. Ia tetap berjuang dan berdakwah di daerahnya. Ia tetap
bergerilya menyerang dan terus mencoba ber-amar ma’ruf nahi munkar. Saya tahu
cerita tersebut pun bukan dari mulutnya, namun dari adik dan seorang sahabat di
pangandaran.

Masih banyak
cerita tentang para gerilyawan di seantero indonesia. Seperti para da’i
hidayatullah yang diterjunkan di pelosok kalimatan dan papua. Yang harus
berhadapan dengan penduduk asli yang masih terasing dan misionaris yang
dilengkapi pesawat perintis. Atau para da’i yang “ditanam” di pelosok bengkulu
yang saya temui ketika saya berada disana (ustadz taifuri dll). Perjuangan
mereka benar-benar membuat saya malu. Saya yang hidup lebih dari cukup dan
dengan tantangan dakwah yang ecek-ecek sering berpikir bahwa amanah saya
terlalu besar dan ujub dengan capaian dakwah yang telah saya tempuh. Ternyata
saya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka!!!! Seorang ustadz gerilyawan di
pulau lombok berkata “seorang ikhwah yang mau menjadi perintis di daerah, harus
siap mentalnya. Karena cobaannya akan sangat berat. Ia harus siap hidup
sengsara dengan kondisi serba kekurangan. Namun nanti antum akan merasakan
nikmatnya perjuangan itu akh”. Tausiyah yang membuat saya kembali terbakar. Dan
menjadikan saya kembali bersemangat menjalankan amanah-amanah ummat.

Teruntuk para gerilyawan di
seluruh penjuru bumi. Semoga allah mengistiqomahkan perjuangan kita semua.
Bergerak tuntaskan perubahan. Kerja besar untuk perubahan besar!!!

1 Response so far »

  1. 1

    dien said,

    March 31, 2008 @ 9:42 pm

    emang nasyid “ila liqo” kaya gimana? klo ponakan dien mah nyanyinya kaya gini, “ila liqo, ila liqo, sampai berjumpa lagi..” _dengan irama lagu sayonara_(klo bubaran TKA), he…

Comment RSS

Say your words